LAIPORI – Pendampingan kedua pelatihan tenun ikat dilaksanakan di ruang serbaguna sekolah pada Sabtu, 25 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan tenaga terampil di bidang tenun ikat yang difasilitasi oleh Yayasan ASTRA untuk membimbing guru pendamping dan siswa dalam mempelajari teknik dasar hingga proses pembuatan tenun ikat. Program ini merupakan bagian dari pendampingan berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan keterampilan sekaligus melestarikan budaya lokal melalui pendidikan.
Dalam pelaksanaan kegiatan, tenaga terampil yang dihadirkan Yayasan ASTRA memberikan pendampingan secara langsung kepada guru pendamping dan siswa. Peserta memperoleh bimbingan mengenai tahapan Pamening tenun ikat sebagai upaya menanamkan kemampuan menenun sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda.
Pendampingan ini menjadi bagian dari program berkelanjutan yang dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dampingan agar mampu meneruskan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik. Selain meningkatkan kompetensi teknis, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi terhadap warisan budaya, khususnya keterampilan tenun ikat yang menjadi salah satu identitas masyarakat Sumba.
Guru pendamping, Ibu Adriana, menyampaikan bahwa pelatihan memberikan manfaat nyata bagi para peserta. “Dengan adanya pelatihan tenun di sekolah kami melihat dampaknya sangat positif bagi kami sebagai guru pendamping. Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan tetapi menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal,” ujarnya.
Melalui pendampingan yang dilakukan secara berkesinambungan, guru dan siswa diharapkan memiliki kemampuan dalam membuat tenun ikat sehingga dapat berkontribusi pada pelestarian budaya lokal. Keterampilan tersebut juga menjadi nilai tambah dalam pengembangan pembelajaran berbasis kearifan lokal di lingkungan sekolah.
Pelaksanaan pendampingan kedua pelatihan tenun ikat menunjukkan komitmen sekolah bersama Yayasan ASTRA dalam mengembangkan keterampilan peserta didik melalui pelestarian budaya lokal. Program ini diharapkan terus berlanjut sehingga semakin banyak guru dan siswa yang menguasai keterampilan tenun ikat serta mendukung peningkatan mutu pendidikan di Sumba melalui penguatan pembelajaran berbasis budaya lokal. [*]
