Pagi itu saya sedikit memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya. Hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sudah menunggu, dan saya tidak ingin datang terlambat. Saat melintasi perbatasan Walakiri dan Laipori, saya melihat seorang siswa SMP Negeri 3 Pandawai berjalan kaki menuju sekolah. Jarak yang harus ditempuhnya masih sekitar tujuh kilometer.
Tanpa berpikir panjang, saya mengurangi kecepatan lalu menepikan mobil. Saya berhenti sekitar tiga puluh meter di depannya. Dari kaca spion saya memperhatikan anak itu. Ia tampak melihat kendaraan saya, tetapi langkahnya tetap santai. Tidak ada tanda-tanda mempercepat langkah, apalagi berlari kecil menghampiri. Saya menunggu beberapa saat, sambil bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia tidak segera mendekat ketika ada orang yang hendak membantunya.
Setelah ia masuk ke dalam mobil, saya bertanya, “Tadi kamu sudah lihat saya berhenti menunggu. Kenapa tidak berlari kecil supaya saya tidak menunggu terlalu lama?” Ia hanya diam. Wajahnya terlihat bingung. Barulah saya menjelaskan, “Kalau nanti ada guru atau siapa pun yang berhenti untuk memberikan tumpangan, segeralah menghampiri. Jangan berjalan santai seperti tadi.” Kali ini ia mengangguk pelan dan menjawab, “Iya, Pak.”
Percakapan singkat itu terus terngiang dalam perjalanan saya. Mungkin saya terlalu cepat menyimpulkan bahwa anak itu tidak peduli. Bisa jadi ia belum pernah diajarkan bagaimana menyambut sebuah pertolongan. Namun, dari peristiwa sederhana itu saya menyadari bahwa membantu orang lain ternyata tidak cukup hanya dengan niat baik. Pertolongan juga membutuhkan dukungan dari orang yang ditolong.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berbicara tentang pentingnya saling menolong. Namun, jarang disadari bahwa orang yang menerima bantuan juga memiliki peran. Sikap menghargai, bergegas menyambut uluran tangan, mengucapkan terima kasih, atau sekadar menunjukkan antusiasme adalah bentuk empati yang membuat kebaikan terasa bermakna. Ketika pertolongan disambut dengan baik, orang tidak hanya merasa dihargai, tetapi juga terdorong untuk terus berbuat baik kepada orang lain.
Saya berharap pelajaran kecil di tepi jalan itu tidak berhenti pada seorang siswa saja. Semoga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebaikan adalah jalan dua arah. Ada tangan yang rela mengulurkan bantuan, tetapi ada pula hati yang perlu belajar menyambutnya. Sebab, pertolongan akan terasa lebih indah ketika niat baik bertemu dengan sikap yang menghargainya. [*]
